PERENCANAAN PEMBELAJARAN MI
(
Konsep Dasar Perencanaan Sistem Pembelajaran
)

Dibuat Guna Memenuhi Tugas Mata
Kuliah “Perencanaan pembelajran MI”
Dosen Pengampu : Siti Zulaiha, M.
Pd. I
Disusun OLeh :
TATIK PRISNAMASARI (12451140 )
JURUSAN
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI PGMI ( VI E)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI(STAIN)CURUP
TAHUN AJARAN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Perencanaan pembelajaran merupakan salah satu mata
kuliah yang dikembangkan di lembanga pendidikan tinggi khususnya lembaga
keguruan dam ilmu pendididkan , dalam perkembangan mengalami berbagai
perubahan. Perubaham tersebut berjalan dengan perkembangan teknologi
pembelajaran yang didorong tuntutan penggunaan berbagai media dengan maksud
untuk menciptakan kemudahan belajar.
Pergeseran paradigma pembelajaran yang diawali dari
konse teori pembelajaran behavioristik yang berkembang sekitar tahun 1970-an ,tampaknya
telah mendorong ilmuawn pembelajaran untuk menetapkan berbagai teori
perancangan pembelajaran.
Seiring dengan perkembangannya berbagai rancangan
pembelajaran , teori belajaarpun tetap menjadi perhatian para ilmuwan untuk
mengembangkannya. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya teori belajar
kognitif,teori belajar humanistikdan teori belajar sibernetik yang memiliki
karakteristik yang berbeda. Belakngan muncul teori belajar konstrutivistik yang
mulai mewarnai sistem pembelajaran.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran ?
2.
Apa saja dasar perlunya (Urgensi) konsep dasar perencanaa sistem
pembelajaran?
3.
Bagaimana Teori pembelajaran behavioristik dan konstruktivitas serta
aplikasinya dalam pembelajaran ?
C.
Tujuan
1.
Agar Mahasiswa
mampu mengetahui apa yang dimaksud
dengan konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran.
2.
Agar Mahasiswa
mampu mengetahui apa saja dasar
perlunya (Urgensi) konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran.
3.
Agar Mahasiswa
mampu mengetahui bagaimana Teori
pembelajaran behavioristik dan konstruktivitas serta aplikasinya dalam
pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep
Dasar Perencanaan Sistem Pembelajaran
A.
Pengertian Konsep Dasar Perencanaan Sistem Pembelajaran
Ada
beberapa definisi tentang perancanaan yang merumuskan berbeda-beda satu dengan yang lain. Menurut
Cunningham, mengemukan bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan
pengtahuan ,fakta ,imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan dengan tujuan memvisualisasi
dan memformulasihasil yang diinginkan ,urutan kegiatan yang diperlukan dan
perilaku dalam batas-batas yang dapat diterimayang akan digunakan dalam
penyelesaian.[1]
Sementara
itu definisi yang lain tentang perencanaan dirumuskan sangat singkat, perencanaan
adalah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan perubahan.Jadi dapat
disimpulkan bahwa perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat
kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang
antisifasi guna memperkecil kesenjaan yang
terjadi sehingga kegiatan tersebut mencpai tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem,menurut
Oemar Hamalik sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling
terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan
pengertian pembelajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarakan
siswa,dimana didalam pengajaran terdapat kegiatan melilih, menetapkan ,
mengembangkan, metode, untuk mencpai hasil pengajaran ayng diinginkan.[2]
Pemilihan ,penetapan dan pengembangan metode
ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada . kegiatan ini pada
dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Pembelajaran yang akan
direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancang agar rencan pembelajarn
yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran.
Pembelajaran
pada hakekatnya suatu proses komunikasi transtraksional yang bersifat timbal
balik , baik antar guru dengan siswa mampun antara siswa dengan siswa yang lain
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pengajaran
sebagai suatu sistem merupakan pendekatan pengajaran yang menekankan hubungan
sistematik antara berbagai komponen dalam pembelajaran. Perencanaan
pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu :
a)
Perencanaan
pembelajaran sebagai sebuah prosesadalah pengembangangan pembelajaran secara
sitematik yang menggunkan secara khusus teori-teori pembelajran untuk menjamin
berlangsungnya pembelajaran.
b)
Perencanaan
pembelajaran sebagai realitas adalah ide pengajaran yang dikembangkan dengan
melakukan pengecekan dan perbaikan dari waktu ke waktu untuk memperbaiki
kualitas pembelajaran.
Perencanaan
Sistem Pembelajaran berarti suatu pemikiran atau persiapan yang dilakukan oleh
guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran terkait dengan berbagaia komponen
pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan melalui
langkah-langkah pembelajaran.
B.
Dasar perlunya perencanaan pembelajaran
Perlunyan
perencanaan pembelajaran sebagaimana disebutkan diatas ,dmaksudkan agar dapat
dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan
dengan asumsi sebagai berikut :[3]
1.
Untuk
memperbaiki kualitas pembeljaran perlu diawali yang diwujudkan dengan
perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya
perbaikan kualitas pembelajaran. [4]Hal ini dimungkinkan karena desain pembelajaran,
tahapan yang akan dilakukan oleh guru atau dosen dalam mengajar telah terancang
dengan baik, mulai dari mengadakan analisis tujuan pembelajaran sampai dengan
pelaksanaan evaluasi sumatif yang tujuannya mengukur ketercapaian tujaun
pembelajran yang telah ditetapkan.
2.
Untuk
merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem. Hal ini disadari bahwa dengan
pendekatan sistem, akanmemberikan peluang yang lebih besar dalam
mengintegritaskan semua variabel yang mempengaruhi belajar, termasuk
keterkaitan antarvariabel pengajarn yakni variavel kondisi pembelajarnan ,
variabel metode dan variabel hasil pembelajaran.
3.
Perenacaan
desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar. Rancangan
pembelajaran biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangan . Apakah
bersifat intuitif atau bersifat ilmiah. Jika bersifat intuitif , rancangan
pembelajaran tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya. Akan
tetapi jika dibuat berdasarkan
pendekatan ilmiah , rancangan pembelajaran tersebut diwarnai oleh berbagai
teori yang dikemukan oleh para ilmuawan pembelajaran.[5]
4.
Untuk
merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa perorangan. Dalam
hal ini jika perencanaan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang belajar
akan seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang lambat belajar akan
makin tertinggal dan yang cepat berfikir makin maju pembelajarannya. Akibatnya
proses pembelajaran yang dilakuakn dalam suatu kelompok tertentu akan banyak
mengalami hambatan karena perbedaan karakteristik siswa yang tidak
diperhatikan. Hal ini yang merupakan karakteristik siswa adalah perkembangan
intelektual, tingkat motivasi, kemampuan berfikir , gaya kognitif, gaya belajar, kemampuan awal dan lain-lain.
5.
Pembelajarn
yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran , dalam hal
ini akan ada tujaun langsung pembelajran , dan tujuan pengiring dari
pembelajaran. Perancangan pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang
langsung diukur stelah selesai pelaksanaan pembelajaran dan hasil pembelajarn
dapat diukur setelah melalui keseluruhan proses pembelajaran atau hasil
pengiring.perencanaan pembelajaran seringkali meras kecewa dengan hasil nyata
yang dicapainya karena ada sejumnlah hasil yang tidak segera bias diamati
setelah pembelajaran berakhir terutama hasil pembelajaran yang termasuk pada
ranah sikap. Padahal ketercapaian ranah sikap biasanya terbentuk setelah secara
kumulatif dan dalam waktu yang relatif lama terintegritas keseluruhan hasil
langsung pembelajaran.
6.
Sasaran
akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah kemudahan siswa untuk
belajar. Dimana peran guru sebagai sumber belajar telah diatur secara
terencana, pelaksanaan evaluasi baik informasi maupun sumatif telah terencana,
memberi kemudahan siswa untuk belajar. Jika hal ini dilakukan dengan baik,
sudah tentu sasaran akhir dari pembelajaran adalah terjadinya kemudahan belajar
siswa dapat dicapai.
7.
Perencanaan
pembelajran harus melibatkan semua variabel pembelajaran. Ada tiga variabel
pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajara diantaranya
adalah :
a.
Variabel
kondisi, dimana kondisi pembelajaran mencangkup semua variabel yang tidak dapat
dimanipulasi oleh perencana pembelajaran dan harus diterima apa adanya.yang
termasuk kedalam variabel ini adalah tujuan pembelajaran , karakteristik bidang
studi, dan karakteristik siswa.
b.
Variabel
metode, dimana pembelajaran mencakup semua cara yang dapat dipakai untuk
mencpai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu. Yang termasuk variabel ini
adalah strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian
pembelajran, dan strategi pengelolah pembelajaran.
c.
Variabel
hasil pembelajaran, dimana mencakup semua akibat yang muncul dari penggunaan
metode pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajran, efesiensi
pembelajran dan daya tarik pembelajran.
8.
Inti
dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajran yang
optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Fokus utama perancangan
pembelajaran adalah pada pemuilihan ,penetapan, dan pengembangan variabel
metode pembelajaran.
Ada tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan
metode pembelajaran diantranya :
a.
Tidak
ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam semua
kondisi.
b.
Metode
pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada
hasil pembelajaran.
c.
Kondisi
pembelajaran bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pengajaran. [6]
C.
Teori Pembelajaran behavioristik dan konstruktivistik serta
aplikasinya dalam pembelajaran
Teori
pembelajaran tidak menjelasakan bagaimana proses belajar terjadi, tetapi lebih
merupakan implementasi prinsip-prisip teori belajar dan berfungsi untuk
memecahkan masalah praktis dalam pembelajaran. Oleh karena itu , teori
pembelajaran selalu akan mempersoalkan bagaimana prosedur pembelajran yang
efektif , maka bersifat preskriptif dan normatif.[7]
Teori pembelajaran akan menjelaskan bagaimana menimbulkan pengalaman belajar
dan bagaimana pula menilai dan memperbaiki metode dan teknik yang tepat. Dalam
teori pembelajaran harus terdapat variabel metode pembelajaran . oleh karena
itu , teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran
dengan prose psikologis dalam diri peserta didik.
Jika
dilihat secara garis besar teori pembelajaran yang sering digunakan dalam dunia
pendidikan , ada dua macam teori yang kita kenal :
1.
Teori
pembelajaran klasik ( Behavioristik)
Menurut teori behavioristik bahwa belajar merupakan perubahan
tingkah laku dimana pengutan dan penghargaan serta hukuman menjjadi stimulus
untuk merangsang siswa dalam beperilaku.
Salah satu penganut paham ini adalah
Thornike. Ia menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya
asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan
respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut.
Penganut paham psikologis brhavior yang lain, yaitu Skinner,
berpendapatbahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan, maksudnya
adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respons akan semakin
kuat bila diberi penguatan ( penguatan positif dan penguatan negatif).[8]
Drive Reduction Theory ini memiliki
beberapa prinsip , yaitu :
a.
Dorongan
merupakan hal yang penting agar terjadi respons( siswa harus memiliki keinginan
untuk belajar)
b.
Stimulus
dan respons harus diketahui oleh organisma agar pembiasaan dapat terjadi( siswa
harus mempunyai perhatian)
c.
Respons
harus dibuat agar terjadi pembiasaan(siswa harus aktif)
d.
Pembiasaan
hanya terjadi jika reinforcemen dapat memenuhi kebutuhan (belajar harus dapat
memenuhi keinginan siswa).[9]
Aplikasi
teori behavioristik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
·
Menurut
teori behavioristik, guru merupakan pusat (center) dan subyek, sedangkan siswa
hanya merupakan objek yang harus tunduk tanpa reserve kepada guru. Disini , guru
mendikte dan membentuk siswa. [10]
·
Teori
behavioristik dengan hubungan stimulus-respons mendudukakn peserta didik
menjadi pasif. Atau dalam proses belajar mengajar , siswa dianggap sebagi objek
pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan pengutahan dari pendidik atu guru.
·
Menurut
teori behavioristik ,siswa diharapakan memiliki pemahaman yang sama terhadap
pengetahuan yang diajarkan. Artinya ,apa yang dipahami oleh guru itulah yang
harus dipahami oleh murid.
·
Teori
behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang meberi ruang gerak
yang bebas bagi siswa untuk berkreasi ,bereksperimentasi, dan mengembangkan
kemampuanya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut besifat otomatis dan
mekanik dalam menghubungkan stimulus dan respons sehinngga terkesan seperti
kinerja mesin atau robot. Akibatnya , siswa kurang mampu berkembang sesuai
potensi yang dimiliki. Serta ketaat pada aturan dipandang sebagai penentu
keberhasilan belajar. [11]
·
Pendidik
yang menggunakan teori behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan
menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu
ketertampilan tertentu. Kemudian bagian tersebut disusun secara hierarki , dari
yang sederhana sampai yang kompleks.
·
Pembelajaran
yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memendang bahwa
pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, dan tidak berubah. Pengetahuan telah
tersusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan , sedangkan
mengajar adalah memindahakan pengetahuan kepada para pembelajar,peserta didik
atau siswa. Sehingga siswa harus dihapkan pada aturan-aturan yang jelas dan
ditetapkan terlebih dahulu secara ketat.[12]
2.
Teori
Pembelajaran Kontemporer ( Kontruktivistik)
Kontruktivistik adalah suatu upaya
membangun tata susunan hidup yang berbudaya
modern. Serta merupakan salah satu filsafat pengetahuan adalah buatan
kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas bukan juga gambaran dari
dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil kontruksi kognitif
melalui kegiatan indivudu dengan mebuat struktur , kategori, konsep, dan skema
yang perlu membentuk pengetahuan tersebut. [13]
Hal yang terpenting dalam teori
kontruksivitik adalah dalam proses pembelajarannya, siswalah yang mendapat
penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka ,bukan
pembelajar atau orang lain. Meraka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil
belajarnya. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri
dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental
learning , yaitu adaptasi kemanisuaan berdasarkan pengalaman konkret di
laborarorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan
dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya ,
aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melaikan
pada peserta didik.
Hakikat pembelajaran
kontruktivistik, sebagaimana dinyatakan oleh Brooks J.G. & Brooks M.G.
(1993) bahwa pengetahuan adalah non-objective , bersifat temporer
artinya selalu berubah, dan tidak menentu. Mengajar berarti menata lingkungan
agar siswa termotivasi dalam menggali makna menghargai ketidak menentuan. [14]
Aplikasi teori kontruktivistik dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut :
·
Menurut
teori ini guru bukan satu-satunya sumber belajar, peserta didik yang harus
aktif mengonstruksi pengetahuan yang ia dapat. Jadi guru dalam pembelajaran
kontruktivistik hanya sebagai fasilitator, bukan model atau sumber utama yang
bertugas untuk mentrasper ilmu pada siswa.[15] Dimana
pembelajaran ini berpusat pada siswa
(student centered).
·
Dalam
belajar sistem ini ,peran siswa diutamakan dan keaktifan siswa untuk membentuk
pengetahuan dinomor satukan .Siswa diberikan kesempatan mengungkapkan
pemikirannya akan sesuatu masalah tanpa dihambat sedikitpun. Serta dengan
dibiasakan belajar sendiri dan mempertanggung jawabkan pemikirannya, siswa akan
terlatih untuk menjadi pribadi yang sungguh mengerti , yang kritis, kreatif dan
rasional.[16]
·
Tugas
guru adalah mampu membantu siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan
situasi kokret, maka strategi pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan
dengan kebutuhan dan situasi siwa. Serta guru juga perlu mendorong siswa agar
tidak takut pada hal-hal yang kompleks.
·
Lingkungan
pembelajaran kontruktivistik mengubah fokus dari penyebaran informasi oleh guru,
yang mendorong peran pasif siswa menuju otonomi dan refleksi siswa, untuk
mendorong peran aktif siswa. Teori kontruktivistik memandang belajar sebagai
kegiatan yang aktif , artinya siswa yang membangun sendiri pengetahuannya.
Serta pembelajaran dituntun aktif dan kreatif untuk mengaikatkan ilmu baru ynag
mereka dapat dengan pengalaman mereka sebelumnya,sehingga tercipta konsep ynag
sesuai dengan yang diharapkan.
·
Penerapan
teori kontruktivistik di dalam kelas menurut Asrori (2007), adalah sebagai
berikut :[17]
a.
Mendorong
kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.
b.
Guru
mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada
siswa untuk merespon
c.
Mendorong
siswa berpikir tingkat tinggi.
d.
Siswa
terlibat secara aktif dalam diolag atau diskusi degan guru dan siswa lainnya.
e.
Siswa
terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi.
f.
Guru
menggunakan data mentah , sumber-sumber utama dan materi-materi interaktif.
.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut
Cunningham, mengemukan bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan
pengtahuan ,fakta ,imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan dengan tujuan
memvisualisasi dan memformulasihasil yang diinginkan ,urutan kegiatan yang
diperlukan dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterimayang akan
digunakan dalam penyelesaian.
Upaya
perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut :
1.
Untuk
memperbaiki kualitas pembeljaran perlu diawali yang diwujudkan dengan
perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.
2.
Untuk
merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem.
3.
Perenacaan
desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar.
4.
Untuk
merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa perorangan.
5.
Pembelajarn
yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran , dalam hal
ini akan ada tujaun langsung pembelajran , dan tujuan pengiring dari
pembelajaran.
6.
Sasaran
akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah kemudahan siswa untuk belajar.
7.
Perencanaan
pembelajran harus melibatkan semua variabel pembelajaran.
8.
Inti
dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajran yang
optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Jika
dilihat secara garis besar teori pembelajaran yang sering digunakan dalam dunia
pendidikan , ada dua macam teori yang kita kenal :
1.
Teori
pembelajaran klasik ( Behavioristik)
Menurut teori behavioristik bahwa belajar merupakan perubahan
tingkah laku dimana pengutan dan penghargaan serta hukuman menjjadi stimulus
untuk merangsang siswa dalam beperilaku.
2.
Teori
Pembelajaran Kontemporer ( Kontruktivistik)
Kontruktivistik adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup
yang berbudaya modern. Serta merupakan
salah satu filsafat pengetahuan adalah buatan kita sendiri. Pengetahuan bukan
tiruan dari realitas bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin,Esa Nur wahyuni.2007. Teori Belajar &
Pembelajaran. Jogjakarta:AR-RUZZ MEDIA
Cahyo Agus N. 2012.Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar
Mengajar.Yogjakarta: Diva Press
Hamzah .2006. Perencanaan Pembelajaran. Gorontalo: Bumi
Askara
Rahyubi Heri.2011.Teori –Teori
Belajar Dan Aplikasi Pembelajaran Motorik,Majalengka : Nusa Media
Harmi Hendra,2010.Perencanaan
Sistem Pembelajaran,Curup:LP2 STAIN CURUP
[1] Hamzah.Perencanaan
Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Askara,2006,hal.1
[2]
Ibid,hal.2-3
[3]
Opcit,hal 3
[4] Hamzah.Perencanaan
Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Askara,2006,hal.3
[5]
Ibid,hal.4
[6] Hamzah.Perencanaan
Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Askara,2006,hal.5-6
[7] Agus N.
Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori
Belajar Mengajar,Yogjakarta: Diva
Press,2012,hal. 20
[8]
Ibid,hal.27-28
[9]
Baharuddin. Teori Belajar & Pembelajaran,Jogjakarta :AR-RUZZ
MEDIA,2007,hal.84-85
[10] Heri
Rahyubi.Teori –Teori Belajar Dan
Aplikasi Pembelajaran Motorik,Majalengka : Nusa Media,2011,hal.72
[11]
Ibid,hal.72
[12] Heri
Rahyubi.Teori –Teori Belajar Dan
Aplikasi Pembelajaran Motorik,Majalengka : Nusa Media,2011,hal.72
[13] Agus N.
Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori
Belajar Mengajar,Yogjakarta: Diva
Press,2012,hal.53
[14]
Ibid,hal.30
[15] Agus N.
Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori
Belajar Mengajar,Yogjakarta: Diva
Press,2012,hal.69
[16]
Ibid,hal.77-78
[17] Agus N.
Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori
Belajar Mengajar,Yogjakarta: Diva
Press,2012,hal.180-182