Minggu, 01 Maret 2015

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MI



PERENCANAAN  PEMBELAJARAN MI
( Konsep Dasar Perencanaan Sistem Pembelajaran  )


Dibuat Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Perencanaan pembelajran MI”
Dosen Pengampu : Siti Zulaiha, M. Pd. I

Disusun OLeh :
TATIK PRISNAMASARI (12451140 )

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PGMI ( VI E)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN)CURUP
TAHUN AJARAN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Perencanaan pembelajaran merupakan salah satu mata kuliah yang dikembangkan di lembanga pendidikan tinggi khususnya lembaga keguruan dam ilmu pendididkan , dalam perkembangan mengalami berbagai perubahan. Perubaham tersebut berjalan dengan perkembangan teknologi pembelajaran yang didorong tuntutan penggunaan berbagai media dengan maksud untuk menciptakan kemudahan belajar.
Pergeseran paradigma pembelajaran yang diawali dari konse teori pembelajaran behavioristik yang berkembang sekitar tahun 1970-an ,tampaknya telah mendorong ilmuawn pembelajaran untuk menetapkan berbagai teori perancangan pembelajaran.
Seiring dengan perkembangannya berbagai rancangan pembelajaran , teori belajaarpun tetap menjadi perhatian para ilmuwan untuk mengembangkannya. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya teori belajar kognitif,teori belajar humanistikdan teori belajar sibernetik yang memiliki karakteristik yang berbeda. Belakngan muncul teori belajar konstrutivistik yang mulai mewarnai sistem pembelajaran.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran ?
2.      Apa saja dasar perlunya (Urgensi) konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran?
3.      Bagaimana Teori pembelajaran behavioristik dan konstruktivitas serta aplikasinya dalam pembelajaran ?
C.    Tujuan
1.      Agar Mahasiswa mampu mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran.
2.      Agar Mahasiswa mampu mengetahui apa saja dasar perlunya (Urgensi) konsep dasar perencanaa sistem pembelajaran.
3.      Agar Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana Teori pembelajaran behavioristik dan konstruktivitas serta aplikasinya dalam pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Dasar Perencanaan Sistem Pembelajaran
A.    Pengertian Konsep Dasar Perencanaan Sistem Pembelajaran
Ada beberapa definisi tentang perancanaan yang merumuskan  berbeda-beda satu dengan yang lain. Menurut Cunningham, mengemukan bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan pengtahuan ,fakta ,imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasihasil yang diinginkan ,urutan kegiatan yang diperlukan dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterimayang akan digunakan dalam penyelesaian.[1]
Sementara itu definisi yang lain tentang perencanaan dirumuskan sangat singkat, perencanaan adalah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan perubahan.Jadi dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisifasi guna memperkecil kesenjaan yang  terjadi sehingga kegiatan tersebut mencpai tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem,menurut Oemar Hamalik sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan pengertian pembelajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarakan siswa,dimana didalam pengajaran terdapat kegiatan melilih, menetapkan , mengembangkan, metode, untuk mencpai hasil pengajaran ayng diinginkan.[2] Pemilihan ,penetapan dan pengembangan metode  ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada . kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancang agar rencan pembelajarn yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran.
Pembelajaran pada hakekatnya suatu proses komunikasi transtraksional yang bersifat timbal balik , baik antar guru dengan siswa mampun antara siswa dengan siswa yang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pengajaran sebagai suatu sistem merupakan pendekatan pengajaran yang menekankan hubungan sistematik antara berbagai komponen dalam pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu :
a)      Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah prosesadalah pengembangangan pembelajaran secara sitematik yang menggunkan secara khusus teori-teori pembelajran untuk menjamin berlangsungnya pembelajaran.
b)      Perencanaan pembelajaran sebagai realitas adalah ide pengajaran yang dikembangkan dengan melakukan pengecekan dan perbaikan dari waktu ke waktu untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.
Perencanaan Sistem Pembelajaran berarti suatu pemikiran atau persiapan yang dilakukan oleh guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran terkait dengan berbagaia komponen pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan melalui langkah-langkah pembelajaran.

B.     Dasar perlunya perencanaan pembelajaran
Perlunyan perencanaan pembelajaran sebagaimana disebutkan diatas ,dmaksudkan agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut :[3]
1.      Untuk memperbaiki kualitas pembeljaran perlu diawali yang diwujudkan dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran. [4]Hal  ini dimungkinkan karena desain pembelajaran, tahapan yang akan dilakukan oleh guru atau dosen dalam mengajar telah terancang dengan baik, mulai dari mengadakan analisis tujuan pembelajaran sampai dengan pelaksanaan evaluasi sumatif yang tujuannya mengukur ketercapaian tujaun pembelajran yang telah ditetapkan.
2.      Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan  sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan sistem, akanmemberikan peluang yang lebih besar dalam mengintegritaskan semua variabel yang mempengaruhi belajar, termasuk keterkaitan antarvariabel pengajarn yakni variavel kondisi pembelajarnan , variabel metode dan variabel hasil pembelajaran.
3.      Perenacaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar. Rancangan pembelajaran biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangan . Apakah bersifat intuitif atau bersifat ilmiah. Jika bersifat intuitif , rancangan pembelajaran tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya. Akan tetapi  jika dibuat berdasarkan pendekatan ilmiah , rancangan pembelajaran tersebut diwarnai oleh berbagai teori yang dikemukan oleh para ilmuawan pembelajaran.[5]
4.      Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa perorangan. Dalam hal ini jika perencanaan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang belajar akan seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang lambat belajar akan makin tertinggal dan yang cepat berfikir makin maju pembelajarannya. Akibatnya proses pembelajaran yang dilakuakn dalam suatu kelompok tertentu akan banyak mengalami hambatan karena perbedaan karakteristik siswa yang tidak diperhatikan. Hal ini yang merupakan karakteristik siswa adalah perkembangan intelektual, tingkat motivasi, kemampuan berfikir , gaya kognitif,  gaya belajar, kemampuan awal dan lain-lain.
5.      Pembelajarn yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran , dalam hal ini akan ada tujaun langsung pembelajran , dan tujuan pengiring dari pembelajaran. Perancangan pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang langsung diukur stelah selesai pelaksanaan pembelajaran dan hasil pembelajarn dapat diukur setelah melalui keseluruhan proses pembelajaran atau hasil pengiring.perencanaan pembelajaran seringkali meras kecewa dengan hasil nyata yang dicapainya karena ada sejumnlah hasil yang tidak segera bias diamati setelah pembelajaran berakhir terutama hasil pembelajaran yang termasuk pada ranah sikap. Padahal ketercapaian ranah sikap biasanya terbentuk setelah secara kumulatif dan dalam waktu yang relatif lama terintegritas keseluruhan hasil langsung pembelajaran.
6.      Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah kemudahan siswa untuk belajar. Dimana peran guru sebagai sumber belajar telah diatur secara terencana, pelaksanaan evaluasi baik informasi maupun sumatif telah terencana, memberi kemudahan siswa untuk belajar. Jika hal ini dilakukan dengan baik, sudah tentu sasaran akhir dari pembelajaran adalah terjadinya kemudahan belajar siswa dapat dicapai.
7.      Perencanaan pembelajran harus melibatkan semua variabel pembelajaran. Ada tiga variabel pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajara diantaranya adalah :
a.       Variabel kondisi, dimana kondisi pembelajaran mencangkup semua variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh perencana pembelajaran dan harus diterima apa adanya.yang termasuk kedalam variabel ini adalah tujuan pembelajaran , karakteristik bidang studi, dan karakteristik siswa.
b.      Variabel metode, dimana pembelajaran mencakup semua cara yang dapat dipakai untuk mencpai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu. Yang termasuk variabel ini adalah strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajran, dan strategi pengelolah pembelajaran.
c.       Variabel hasil pembelajaran, dimana mencakup semua akibat yang muncul dari penggunaan metode pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajran, efesiensi pembelajran dan daya tarik pembelajran.
8.      Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Fokus utama perancangan pembelajaran adalah pada pemuilihan ,penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran.
Ada tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan metode pembelajaran diantranya :
a.       Tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam semua kondisi.
b.      Metode pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran.
c.       Kondisi pembelajaran bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pengajaran. [6]

C.    Teori Pembelajaran behavioristik dan konstruktivistik serta aplikasinya dalam pembelajaran  
Teori pembelajaran tidak menjelasakan bagaimana proses belajar terjadi, tetapi lebih merupakan implementasi prinsip-prisip teori belajar dan berfungsi untuk memecahkan masalah praktis dalam pembelajaran. Oleh karena itu , teori pembelajaran selalu akan mempersoalkan bagaimana prosedur pembelajran yang efektif , maka bersifat preskriptif dan normatif.[7] Teori pembelajaran akan menjelaskan bagaimana menimbulkan pengalaman belajar dan bagaimana pula menilai dan memperbaiki metode dan teknik yang tepat. Dalam teori pembelajaran harus terdapat variabel metode pembelajaran . oleh karena itu , teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan prose psikologis dalam diri peserta didik.
Jika dilihat secara garis besar teori pembelajaran yang sering digunakan dalam dunia pendidikan , ada dua macam teori yang kita kenal :
1.      Teori pembelajaran klasik ( Behavioristik)
Menurut teori behavioristik bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku dimana pengutan dan penghargaan serta hukuman menjjadi stimulus untuk merangsang siswa dalam beperilaku.
Salah satu penganut paham ini adalah Thornike. Ia menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut.
Penganut paham psikologis brhavior yang lain, yaitu Skinner, berpendapatbahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan, maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respons akan semakin kuat bila diberi penguatan ( penguatan positif dan penguatan negatif).[8]
          
Drive Reduction Theory ini memiliki beberapa prinsip , yaitu :
a.       Dorongan merupakan hal yang penting agar terjadi respons( siswa harus memiliki keinginan untuk belajar)
b.      Stimulus dan respons harus diketahui oleh organisma agar pembiasaan dapat terjadi( siswa harus mempunyai perhatian)
c.       Respons harus dibuat agar terjadi pembiasaan(siswa harus aktif)
d.      Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcemen dapat memenuhi kebutuhan (belajar harus dapat memenuhi keinginan siswa).[9]

Aplikasi teori behavioristik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
·           Menurut teori behavioristik, guru merupakan pusat (center) dan subyek, sedangkan siswa hanya merupakan objek yang harus tunduk tanpa reserve kepada guru. Disini , guru mendikte dan membentuk siswa. [10]
·           Teori behavioristik dengan hubungan stimulus-respons mendudukakn peserta didik menjadi pasif. Atau dalam proses belajar mengajar , siswa dianggap sebagi objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan pengutahan dari pendidik atu guru.
·           Menurut teori behavioristik ,siswa diharapakan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya ,apa yang dipahami oleh guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
·           Teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang meberi ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi ,bereksperimentasi, dan mengembangkan kemampuanya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut besifat otomatis dan mekanik dalam menghubungkan stimulus dan respons sehinngga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya , siswa kurang mampu berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Serta ketaat pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. [11]
·           Pendidik yang menggunakan teori behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu ketertampilan tertentu. Kemudian bagian tersebut disusun secara hierarki , dari yang sederhana sampai yang kompleks.
·           Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memendang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, dan tidak berubah. Pengetahuan telah tersusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan , sedangkan mengajar adalah memindahakan pengetahuan kepada para pembelajar,peserta didik atau siswa. Sehingga siswa harus dihapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dahulu secara ketat.[12]

2.      Teori Pembelajaran Kontemporer ( Kontruktivistik)
Kontruktivistik adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya  modern. Serta merupakan salah satu filsafat pengetahuan adalah buatan kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil kontruksi kognitif melalui kegiatan indivudu dengan mebuat struktur , kategori, konsep, dan skema yang perlu membentuk pengetahuan tersebut. [13]
Hal yang terpenting dalam teori kontruksivitik adalah dalam proses pembelajarannya, siswalah yang mendapat penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka ,bukan pembelajar atau orang lain. Meraka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam  kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning , yaitu adaptasi kemanisuaan berdasarkan pengalaman konkret di laborarorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan  ide  dan pengembangan konsep baru. Karenanya , aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melaikan pada peserta didik.
Hakikat pembelajaran kontruktivistik, sebagaimana dinyatakan oleh Brooks J.G. & Brooks M.G. (1993) bahwa pengetahuan adalah non-objective , bersifat temporer artinya selalu berubah, dan tidak menentu. Mengajar berarti menata lingkungan agar siswa termotivasi dalam menggali makna menghargai ketidak menentuan. [14]

Aplikasi teori kontruktivistik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
·      Menurut teori ini guru bukan satu-satunya sumber belajar, peserta didik yang harus aktif mengonstruksi pengetahuan yang ia dapat. Jadi guru dalam pembelajaran kontruktivistik hanya sebagai fasilitator, bukan model atau sumber utama yang bertugas untuk mentrasper ilmu pada siswa.[15] Dimana pembelajaran ini  berpusat pada siswa (student centered).
·      Dalam belajar sistem ini ,peran siswa diutamakan dan keaktifan siswa untuk membentuk pengetahuan dinomor satukan .Siswa diberikan kesempatan mengungkapkan pemikirannya akan sesuatu masalah tanpa dihambat sedikitpun. Serta dengan dibiasakan belajar sendiri dan mempertanggung jawabkan pemikirannya, siswa akan terlatih untuk menjadi pribadi yang sungguh mengerti , yang kritis, kreatif dan rasional.[16]
·      Tugas guru adalah mampu membantu siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan situasi kokret, maka strategi pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siwa. Serta guru juga perlu mendorong siswa agar tidak takut pada hal-hal yang kompleks.
·      Lingkungan pembelajaran kontruktivistik mengubah fokus dari penyebaran informasi oleh guru, yang mendorong peran pasif siswa menuju otonomi dan refleksi siswa, untuk mendorong peran aktif siswa. Teori kontruktivistik memandang belajar sebagai kegiatan yang aktif , artinya siswa yang membangun sendiri pengetahuannya. Serta pembelajaran dituntun aktif dan kreatif untuk mengaikatkan ilmu baru ynag mereka dapat dengan pengalaman mereka sebelumnya,sehingga tercipta konsep ynag sesuai dengan yang diharapkan.
·      Penerapan teori kontruktivistik di dalam kelas menurut Asrori (2007), adalah sebagai berikut :[17]
a.       Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.
b.      Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon
c.       Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.
d.      Siswa terlibat secara aktif dalam diolag atau diskusi degan guru dan siswa lainnya.
e.       Siswa terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi.
f.       Guru menggunakan data mentah , sumber-sumber utama dan materi-materi interaktif.
.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut Cunningham, mengemukan bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan pengtahuan ,fakta ,imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasihasil yang diinginkan ,urutan kegiatan yang diperlukan dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterimayang akan digunakan dalam penyelesaian.
Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut :
1.      Untuk memperbaiki kualitas pembeljaran perlu diawali yang diwujudkan dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.
2.      Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan  sistem.
3.      Perenacaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar.
4.      Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa perorangan.
5.      Pembelajarn yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran , dalam hal ini akan ada tujaun langsung pembelajran , dan tujuan pengiring dari pembelajaran.
6.      Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah kemudahan siswa untuk belajar.
7.      Perencanaan pembelajran harus melibatkan semua variabel pembelajaran.
8.      Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Jika dilihat secara garis besar teori pembelajaran yang sering digunakan dalam dunia pendidikan , ada dua macam teori yang kita kenal :
1.      Teori pembelajaran klasik ( Behavioristik)
Menurut teori behavioristik bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku dimana pengutan dan penghargaan serta hukuman menjjadi stimulus untuk merangsang siswa dalam beperilaku.
2.      Teori Pembelajaran Kontemporer ( Kontruktivistik)
Kontruktivistik adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya  modern. Serta merupakan salah satu filsafat pengetahuan adalah buatan kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin,Esa Nur wahyuni.2007. Teori Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta:AR-RUZZ MEDIA
Cahyo Agus N. 2012.Panduan Aplikasi Teori-Teori  Belajar  Mengajar.Yogjakarta: Diva Press
Hamzah .2006. Perencanaan Pembelajaran. Gorontalo: Bumi Askara
Rahyubi Heri.2011.Teori –Teori  Belajar Dan Aplikasi Pembelajaran Motorik,Majalengka : Nusa Media
Harmi Hendra,2010.Perencanaan Sistem Pembelajaran,Curup:LP2 STAIN CURUP


[1] Hamzah.Perencanaan Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Askara,2006,hal.1
[2] Ibid,hal.2-3
[3] Opcit,hal 3
[4] Hamzah.Perencanaan Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Askara,2006,hal.3
[5] Ibid,hal.4
[6] Hamzah.Perencanaan Pembelajaran, Gorontalo: Bumi Askara,2006,hal.5-6
[7] Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori  Belajar  Mengajar,Yogjakarta: Diva Press,2012,hal. 20
[8] Ibid,hal.27-28
[9] Baharuddin. Teori Belajar & Pembelajaran,Jogjakarta :AR-RUZZ MEDIA,2007,hal.84-85
[10] Heri Rahyubi.Teori –Teori  Belajar Dan Aplikasi Pembelajaran Motorik,Majalengka : Nusa Media,2011,hal.72
[11] Ibid,hal.72
[12] Heri Rahyubi.Teori –Teori  Belajar Dan Aplikasi Pembelajaran Motorik,Majalengka : Nusa Media,2011,hal.72
[13] Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori  Belajar  Mengajar,Yogjakarta: Diva Press,2012,hal.53
[14] Ibid,hal.30
[15] Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori  Belajar  Mengajar,Yogjakarta: Diva Press,2012,hal.69
[16] Ibid,hal.77-78
[17] Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori  Belajar  Mengajar,Yogjakarta: Diva Press,2012,hal.180-182

1 komentar:

  1. Your Affiliate Money Printing Machine is waiting -

    Plus, getting it set up is as simple as 1--2--3!

    This is how it works...

    STEP 1. Tell the system which affiliate products the system will advertise
    STEP 2. Add push button traffic (it LITERALLY takes JUST 2 minutes)
    STEP 3. Watch the system grow your list and upsell your affiliate products all for you!

    Are you ready to start making money?

    Click here to check it out

    BalasHapus